222 KK di Tangsel Terdampak Krisis Air Bersih Akibat Kekeringan Musim Kemarau

TANGSEL – Musim kemarau mulai melanda sebagian wilayah Kota Tangerang Selatan. Sebanyak sepuluh titik di Kelurahan Keranggan dan Serpong terdampak krisis air bersih.

Akibat kekeringan ini, ratusan kepala keluarga kini bergantung sepenuhnya pada bantuan armada tangki.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel, periode 8 hingga 30 Juli 2026 mencatat sembilan titik kekeringan di Keranggan dan satu titik di Serpong.

Sebanyak 222 Kepala Keluarga (KK) terdampak langsung, dengan total 146.350 liter air bersih telah digelontorkan untuk menyambung hidup warga.

Komandan Tim BPBD Tangsel, Wawan, tampak sibuk mengisi deretan toren di RT 012/RW 05, Keranggan, pada Jumat (31/7/2026).

Di tengah terik matahari, ia menjelaskan bahwa timnya bekerja ekstra demi memastikan warga tidak kehabisan stok air.

“Warga bilang kekeringan dari pertengahan Juni, tapi laporan dari kelurahan masuk awal Juli. Di satu titik, satu kali ngisi toren bisa tahan dua hari,” ungkap Wawan.

Setiap harinya, BPBD mengerahkan 9 hingga 10 personel untuk menyalurkan sekitar 21 ribu liter air.

Misi kemanusiaan ini didukung oleh berbagai pihak, mulai dari armada BBWS Ciliwung Cisadane, Baznas, Sinar Mas, Dinas Lingkungan Hidup, hingga Palang Merah Indonesia (PMI) Tangsel. Seluruh pasokan air ini bersumber dari PDAM Serpong.

Ketua RW 02 Kampung Koceak, Nasrullah, menyebutkan bahwa meski situasi tahun ini sulit, kondisi pada 2023 jauh lebih parah. Saat ini, salah satu wilayah paling kritis adalah RT 06/RW 02 dengan 30 KK yang terdampak.

“Walaupun sebagian RT-RW juga ada yang terdampak, cuma tidak separah misalkan RT 6 itu udah 30 KK. Dan memang lagi-lagi hari ini tuh belum parah banget,” kata Nasrullah.

Kondisi tanah di Keranggan yang terjal, ditambah dampak aktivitas galian pasir di masa lalu, disinyalir menjadi penyebab utama rendahnya daya serap dan tampung air tanah. Saat ini, debit air sumur warga menyusut drastis.

“Kalau dulu memang belum ada toren, bantuan air datang, mereka pakai ember diangkutin ke rumah. Akhirnya saya inisiatif dengan kelurahan gimana caranya biar titik-titik itu kita kasih toren lah,” jelasnya mengenai strategi penempatan toren berkapasitas 2.000 liter agar warga tidak perlu lagi mengantre panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *