Musim kemarau panjang memicu krisis air bersih yang meluas di Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, hingga Kabupaten Bogor pada Selasa, 21 Juli 2026. Penurunan debit air tanah dan mengeringnya sumur warga memaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat menyalurkan puluhan ribu liter bantuan air bersih.
Di Tangerang Selatan, kekeringan melanda Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu. Data pemerintah mencatat sebanyak 147 kepala keluarga di 6 RT terdampak, termasuk 35 kepala keluarga di RW 01 dan RW 02 yang mengalami kekeringan terparah akibat sumur warga yang tak lagi mengeluarkan air.
Seorang warga Keranggan yang mengandalkan air tanah untuk kebutuhan harian mengungkapkan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.
“Jadi kadang kalau tidak ada keluar air, ya enggak mandi dan mandi di kantor,” katanya, Selasa (21/7/2026).
Untuk konsumsi, warga terpaksa membeli air galon isi ulang sembari menunggu giliran distribusi bantuan.
“Tapi sudah beberapa hari ini digilir ada bantuan air bersih dari BPBD. Kalau datang, isi berember-ember. Bahkan ada penampungannya pakai toren,” ujarnya.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menginstruksikan jajarannya untuk memantau wilayah rawan kekeringan secara berkala. Pemkot Tangsel mencatat telah mendistribusikan sekitar 50 ribu liter air bersih untuk membantu warga yang terdampak.
“Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus memantau wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih, tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung,” ujar Benyamin.
Benyamin juga telah menyiapkan langkah strategis untuk mengatasi masalah ketersediaan air baku di wilayah tepian Sungai Cisadane tersebut.
“Solusi jangka menengahnya saya ingin membangun sumur air dalam dengan toren yang besar seperti yang kita bangun di Perumahan Pesona Serpong,” kata Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie, Selasa (21/7/2026).
Pemantauan kondisi kemarau dilakukan melalui koordinasi dengan BMKG serta pengelola Bendungan Katulampa untuk memantau debit Sungai Cisadane.
“Data-data ini akan terus kami update agar penanganan bisa dilakukan secara cepat dan tepat sesuai perkembangan kondisi di lapangan,” ujarnya.
Camat Setu Erwin Gemala Putra mengonfirmasi bahwa bantuan awal sebanyak 5.000 liter air bersih telah disalurkan melalui kerja sama BPBD Tangsel dan Perumdam. Sebelum bantuan tiba, sebagian warga sempat memanfaatkan air sungai.
“Setelah bantuan air bersih didistribusikan, warga kembali menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Memasuki musim kemarau ini, masyarakat juga mulai lebih bijak dalam menggunakan air,” jelasnya.
Kondisi serupa dialami warga Desa Karang Tengah, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Ratusan warga yang didominasi ibu-ibu terlihat mengantre hingga berebut bantuan air bersih dari mobil tangki BPBD Kabupaten Tangerang karena khawatir kehabisan pasokan.
Seorang warga Pagedangan bernama Putri menjelaskan alasan warga terpaksa berebut bantuan.
“Airnya dikit jadi berebut, nanti air ini bakal digunain buat mandi, cuci baju dan piring,” ujar Putri.
Warga lainnya, Enung, mengaku mengalami masa kekeringan yang telah berlangsung selama empat bulan dan terpaksa menempuh jarak jauh demi air bersih.
“Antre air di sini sudah satu jam, kalau mau ambil air jauh sekitar tiga kilometer,” jelasnya.
Enung berharap pemerintah setempat menambah frekuensi distribusi bantuan ke wilayahnya.
“Saya mohon bantuannya, karena banyak warga yang kekurangan air,” harapnya.
Sementara di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, BPBD menyalurkan 10 ribu liter air bersih ke empat titik, yaitu Kampung Cijayanti 2, Kampung Cicereweh, dan Kampung Cimangurang Babakan di Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang. Selama dua bulan terakhir, ratusan warga di wilayah tersebut kesulitan mendapat air karena sumur dan aliran sungai mengering.
