Stok masker di Kabupaten Tangerang, Banten, mulai menipis di tengah meningkatnya permintaan masyarakat. Kondisi tersebut terjadi setelah abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar hingga ke sejumlah wilayah Tangerang.
Berdasarkan penelusuran Beritasatu.com pada Selasa (8/9/2026), masker mulai sulit ditemukan di sejumlah toko, pengecer, hingga apotek di Kabupaten Tangerang.
Sebagian besar tempat yang didatangi sudah tidak memiliki persediaan masker dalam jumlah memadai. Tingginya permintaan masyarakat membuat stok yang tersedia cepat habis dan sulit memenuhi kebutuhan konsumen.
Sementara itu, sejumlah toko yang masih memiliki persediaan mulai membatasi pembelian untuk per satu orang sebagai langkah mengantisipasi kekurangan stok. Bahkan, beberapa pengecer hanya menjual masker secara satuan dan tidak memperbolehkan pembelian dalam jumlah banyak.
Salah seorang pengecer masker di wilayah Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Rini, mengatakan permintaan masker di tempatnya mulai meningkat sejak Minggu (6/9/2026).
“Ramainya itu pas sore, setelah ramai imbauan pakai masker,” kata Rini, Selasa (8/9/2026).
Rini mengungkapkan, mayoritas pembeli meminta masker dalam jumlah banyak. Namun, ia terpaksa membatasi pembelian agar konsumen lainnya tetap mendapatkan masker. Saat ini, satu masker dijual seharga Rp 2.000.
“Rata-rata mereka mintanya per boks. Tetapi saya cuma kasih satuan aja, paling tiga sampai empat masker karena stok saya juga sedikit,” jelasnya.
Rini mengatakan dirinya belum menambah stok masker karena harga dari distributor di toko daring mengalami kenaikan cukup signifikan.
“Saya pesannya dari toko yang ada di shop**, stoknya juga sudah enggak ada. Sekalinya ada juga harganya mahal banget. Biasanya satu boks itu Rp 17.000, sekarang naik jadi Rp 25.000. Bagaimana saya mau jualnya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying dalam membeli masker. Menurutnya, sebaran abu vulkanik atau vulkanis memang perlu diwaspadai, tetapi masyarakat diminta tetap tenang dalam menyikapinya.
“Kita sudah menyampaikan imbauan, ada edaran juga dari pak bupati, dari Kementerian Kesehatan juga ada. Kita sampaikan memang harus kita laksanakan untuk menjaga kesehatan karena butir-butir abu vulkanik itu memang berbahaya,” kata Hendra.
Dalam Surat Edaran Kemenkes Nomor KL.01.02/A/17765/2026 tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker partikulat.
Jenis masker yang dianjurkan antara lain N95, KN95, KF94, FFP2, atau jenis yang setara. Masker medis dapat digunakan sebagai perlindungan sementara apabila masker dengan tingkat perlindungan lebih tinggi belum tersedia.
Menanggapi kelangkaan masker di pasaran, Hendra menegaskan pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait telah rutin membagikan masker secara gratis kepada masyarakat.
