Jenazah Surakman (60), anak buah kapal (ABK) Arupadhatu 1 yang membawa rombongan jurnalis di Selat Sunda saat melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.
Kepastian identitas korban diperoleh setelah tim DVI Pusdokkes Polri melakukan pemeriksaan dan pencocokan DNA terhadap jenazah yang sebelumnya ditemukan warga setempat.
Barang bukti yang tampilkan berupa lembaran kertas foto Surakman serta peta jarak dari Gunung Anak Krakatau hingga Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara sepanjang 347,27 KM
Kepala Bidang Humas Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, mengatakan identitas jenazah tersebut akan dipastikan melalui proses pencocokan DNA oleh petugas.
“Jenazah ditemukan di Pulau Enggano, pada Sabtu 12 September lalu. Hari itu bertepatan dengan hari kelima saat pencarian seluruh korban dilakukan,” katanya, Rabu (23/9/2026).
Ia menyampaikan jenazah tersebut pertama kali ditemukan oleh masyarakat Pulau Enggano.
Karena tidak ada warga yang mengenali korban sebagai anggota keluarganya, jenazah sempat dimakamkan pada malam yang sama.
“Setelah itu dilakukan otopsi meliputi gigi dan sejumlah lainnya, ditemukan masyarakat Pulau Enggano, saat itu warga tidak merasa ada yang kelihatan keluarganya, sehingga jenazah sempat dikubur,” ujarnya.
Identitas korban kemudian diketahui melalui proses pemeriksaan dan pencocokan DNA. Setelah itu, jenazah kembali digali dari makamnya.
Jenazah tersebut diduga merupakan Surakman, warga Carita, Kabupaten Pandeglang, yang sebelumnya dinyatakan hilang bersama lima jurnalis.
“Untuk barang buktinya hanya jenazahnya saja, jenazah rencananya besok akan dibawa ke Banten,” sampainya.
Maruli mengatakan jenazah Surakman saat ini masih berada di Bengkulu. Rencananya, jenazah akan dijemput oleh personel Polairud untuk dibawa ke Banten.
Sementara itu, Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki, mengatakan hasil pemeriksaan DNA menunjukkan adanya kecocokan secara genetik antara jenazah dengan keluarga biologisnya.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap seorang mayat Mr. X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, secara genetik teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal,” ujar Hengki.
Surakman diketahui merupakan ayah biologis dari Yayan. Identifikasi tersebut diperoleh melalui pemeriksaan dan pencocokan profil DNA yang dilakukan tim DVI Pusdokkes Polri.
Dengan hasil identifikasi tersebut, kepolisian dapat memastikan bahwa jenazah yang sebelumnya berstatus Mr. X tersebut merupakan Surakman, sekaligus memberikan kepastian mengenai identitas korban kepada pihak keluarga.
Untuk diketahui, Surakman merupakan satu dari tiga kru kapal Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Senin (7/9/2026).
Kelima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas (28), jurnalis Antara; Ari Basuki (52), jurnalis Merdeka; Yudhis (43), jurnalis iNews; Daus (42), jurnalis Anadolu; serta Donal Husni (51), jurnalis lepas.
Sementara itu, tiga kru kapal terdiri atas Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai ABK, dan Heriyanto (49) selaku pemandu perjalanan.
Kedelapan orang tersebut hilang kontak saat dalam perjalanan menggunakan Arupadhatu 1 untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
